Search
Close this search box

CEST

  • Home
  • Water for Tamiang – Donasi untuk Air Bersih Masyarakat

Water for Tamiang – Donasi untuk Air Bersih Masyarakat

Akhir November hingga awal Desember 2025, bencana banjir bandang melanda berbagai wilayah di Sumatera, mulai dari Provinsi Sumatera Barat hingga Aceh. Banjir kali ini tidak hanya membawa debit air yang tinggi, tetapi juga lumpur dan batang kayu dalam jumlah besar. Setelah air surut, yang tersisa adalah lapisan tanah yang meninggi, rumah-rumah yang terkubur lumpur, akses jalan tertutup, jembatan hanyut, serta berbagai kerusakan infrastruktur lainnya. Masyarakat yang terdampak kesulitan untuk mengakses air dengan rusaknya infrastruktur perpipaan dan terkuburnya sumur warga. Usaha seperti depo air isi ulang pun rusak dan tidak dapat berfungsi.  

Air, sebagai kebutuhan dasar untuk bertahan hidup, baik untuk minum, masak, maupun keperluan kebersihan, menjadi kebutuhan yang mendesak untuk dipenuhi. Dengan keterbatasan ketersediaan, sebagian masyarakat terpaksa menggunakan air genangan untuk kebutuhan masak, sehingga beras yang dimasak menghasilkan nasi berwarna kekuningan akibat kualitas air yang tidak layak. 

Mengetahui kondisi tersebut, CEST bekerja sama dengan orang baik lainnya melalui sosial media Threads yang dikoordinasikan oleh influencer, Mbak Nara (@narayahanafia) dan Mas Andik, menggalang dana dengan tujuan untuk membantu menyediakan air bersih bagi masyarakat terdampak. Penggalangan dana tahap pertama berhasil mengumpulkan sebesar Rp44,277,126. Secara terpisah, Mas Andik juga berhasil menghimpun dana untuk pembelian satu unit filter air portabel yang dapat menyaring air bersih dan air minum dalam kondisi darurat pasca bencana. Penggalangan dana juga disertai pengumpulan pakaian layak dan siap pakai untuk pria dan anak-anak dan disalurkan melalui lembaga Humanity Care. 

Melalui uang donasi tahap pertama, CEST mengirimkan satu orang untuk mendampingi pemasangan filter air tersebut di Kampung Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang, D.I. Aceh. Bersamaan dengan filter, CEST juga menyediakan genset sebagai sumber listrik cadangan guna memastikan operasional alat tetap berjalan saat terjadi pemadaman atau ketidakstabilan listrik. Untuk memudahkan distribusi air kepada masyarakat sekitar, CEST membelanjakan jeriken 35 liter sebanyak 30 buah untuk dibagikan.  

Selain itu, CEST juga menyalurkan dana untuk menyewakan alat berat dan membantu dalam pembersihan lumpur di lingkungan dan menyalurkan Rp5.000.000 dana ke Nara. Untuk meningkatkan dampak, CEST menyalurkan dana sebesar Rp6.260.000 kepada Call To Action Indonesia dalam membantu distribusi air bersih di beberapa lokasi lainnya. 

Filter air yang dipasang memanfaatkan sumber air baru dari sumur bor baru yang dibuat oleh donatur lain. Dalam pengelolaannya, CEST bekerja sama dengan tokoh masyarakat setempat, Pak Ustadz Muhaimin, agar operasional filter dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberi manfaat jangka panjang langsung dan adil bagi warga.  

CEST turut juga dalam  penggalangan dana tahap kedua bersama Mbak Nara dan berhasil mengumpulkan Rp25.000.000. Dari dana tersebut, sebesar Rp12.100.000 telah digunakan untuk peningkatan kapasitas sistem filter agar mampu memproduksi air dalam jumlah lebih besar. Proses peningkatan kapasitas ini didukung oleh Ikatan Alumni ITB di Banda Aceh. Sisa dari uang donasi tersebut akan tetap dipersiapkan untuk keperluan perawatan dan operasional filter air ke depannya. 

Penelitian Air

Bersamaan dengan pemasangan filter air, tim dari CEST juga sekaligus melaksanakan penelitian kualitas air. Penelitian ini dilakukan dengan bekerja sama dengan dosen teknik lingkungan dari Universitas Indonesia, Dr. Iftita Rahmatika dan Dr. Cindy Priadi dan didanai melalui skema hibah penelitian terpisah. Penelitian mencakup melakukan uji kualitas air yang digunakan oleh masyarakat di Aceh Tamiang, mulai dari air yang didapatkan dari tangki, air sumur bor, hingga air hujan. Penelitian ini dilaksanakan dengan sangat hati-hati, mempertimbangkan standar etik dan mengedepankan prinsip mendahulukan pertolongan. 

Tim CEST melakukan pengambilan sampel secara acak, dan melakukan pengujian langsung di lapangan berupa parameter fisik in-situ (pH, TDS, EC, kekeruhan) dan parameter mikrobiologis (Total Coliform, E. coli; menggunakan metode filtrasi dan media Compact Dry EC). Pengujian-pengujian tersebut dilakukan untuk mengetahui kontaminasi bakteri serta parameter fisik yang mungkin berhubungan dengan kontaminasi, sehingga bisa diketahui risiko mikrobiologis dari air yang diuji. Sampel tambahan dari berbagai lokasi juga diambil untuk kemudian dianalisis secara genomik untuk mengkaji karakteristik genetik mikroorganisme yang terdeteksi, termasuk potensi keberadaan gen virulensi dan resistensi antimikroba, serta untuk memahami pola kontaminasi dan kemungkinan sumber pencemar secara lebih mendalam. 

Luaran dari kegiatan penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagaimana kondisi kualitas air yang digunakan oleh masyarakat dalam keadaan pasca bencana, dan diharapkan dapat memberikan informasi dan rekomendasi bagi pihak yang terkait seperti BNPB, Dinas Kesehatan, maupun pihak lainnya dalam emergency response terkait penyediaan air. 

Join CEST in shaping a sustainable future through research and collaboration.

Discover opportunities to join and collaborate with us in creating impact in addressing global environmental challenges.

Join CEST in exploring meaningful research and learning more how we can live more equitable and sustainable —one discovery at a time.

en_USEnglish