Search
Close this search box

CEST

  • Home
  • Ketika Air Menyimpan Ingatan: Menjaga Air Melalui Kisah Masyarakat Adat Flores

Ketika Air Menyimpan Ingatan: Menjaga Air Melalui Kisah Masyarakat Adat Flores

Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Wae Telang, mata air sakral di Manggarai Barat, Flores, air bukanlah sekadar sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Air adalah ikatan hidup antara manusia dan bentang alamnya, sebuah hubungan yang dipelihara melalui pengetahuan adat yang telah menjaga sumber air selama turun-temurun.

Namun, hari ini ikatan antara manusia dan air tengah menghadapi tantangan yang semakin besar. Manggarai Barat telah menjelma menjadi destinasi wisata yang tumbuh pesat di Indonesia. Pertumbuhan ini membawa harapan berupa peluang ekonomi baru, tetapi juga meningkatkan kebutuhan akan air tawar di wilayah yang pasokan airnya telah lama dipengaruhi oleh siklus musim yang tidak menentu. Di saat yang sama, banyak generasi muda meninggalkan desa untuk mengejar kesempatan kerja yang muncul bersama geliat pariwisata. Mereka tumbuh dalam arus media dan gaya hidup baru yang menawarkan berbagai kemungkinan, tetapi juga berisiko menjauhkan mereka dari pengetahuan dan kearifan leluhur yang selama berabad-abad menjadi penjaga sumber-sumber air dan alam di sekitarnya.  

Di tengah perubahan cepat ini, muncul pertanyaan penting: apa yang akan terjadi ketika kisah-kisah yang selama ini menjadi penjaga alam, yang mengajarkan cara menghormati dan melindungi, perlahan menghilang dari ingatan generasi berikutnya?

MATA WAE, berarti “mata-mata air”, adalah sebuah inisiatif yang menjembatani pengetahuan adat, cerita-cerita leluhur, dan sains lingkungan. Bersama masyarakat di Desa Munting dan Desa Lendong, proyek ini menelusuri bagaimana ingatan budaya yang hidup dalam kisah, tradisi, dan praktik sehari-hari dapat menjadi fondasi untuk memperkuat ketahanan sumber air di tengah perubahan sosial dan lingkungan yang berlangsung semakin cepat.

Alih-alih memandang pengetahuan lokal sebagai bagian dari masa lalu, kegiatan ini menjadi sumber daya yang penting untuk masa depan. Para tetua adat menyimpan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi tentang mata air, hutan-hutan sakral, dan praktik-praktik konservasi berbasis adat. Di sisi lain, generasi muda membawa cara dan sarana baru untuk mendokumentasikan serta membagikan kisah-kisah tersebut. Bersama-sama, mereka menciptakan cara-cara baru untuk memahami sekaligus melindungi lingkungan.

Selama kegiatan berlangsung, masyarakat akan terlibat dalam memetakan lanskap, mendokumentasikan tradisi budaya, serta mempelajari keterampilan fotografi dan videografi sebagai sarana untuk merekam kisah mereka sendiri. Melalui proses bertutur yang partisipatif, mereka tidak hanya mendokumentasikan rupa fisik Wae Telang, tetapi juga pengetahuan yang tertanam di dalamnya; kisah-kisah, keyakinan, sejarah, dan praktik yang telah menjaga keberlangsungan sistem air tawar selama turun-temurun. Dengan demikian, lanskap tidak hanya dipahami sebagai ruang geografis, melainkan juga sebagai ruang ingatan yang menyimpan hubungan panjang antara manusia dan air.

Upaya-upaya tersebut akan diperkuat oleh penelitian ilmiah. Melalui kajian sosiohidrologi, para peneliti akan menelusuri keterkaitan antara manusia, budaya, dan air untuk memahami bagaimana praktik-praktik pengelolaan yang diwariskan secara adat telah berkontribusi pada ketahanan sumber air tawar selama bertahun-tahun. Di luar penelitian, berbagai kegiatan seperti penanaman pohon, pameran komunitas, dan dialog kebijakan akan memperluas dampak dan ruang percakapan.

Kisah-kisah yang dihimpun melalui MATA WAE akan diwujudkan dalam berbagai media, mulai dari StoryMap interaktif, pameran komunitas, hingga sebuah buku foto yang dirancang untuk membawa suara-suara masyarakat melampaui batas desa. Luaran ini bukan sekadar dokumentasi warisan budaya, melainkan juga sarana untuk pendidikan, advokasi, dan upaya konservasi.

Bagi para peserta, kegiatan ini juga mengandung makna personal.

Foto oleh Michael Eko.

Generasi muda berkesempatan kembali terhubung dengan pengetahuan yang mungkin perlahan memudar dari ingatan. Para tetua adat menemukan ruang dan audiens baru bagi tradisi yang selama ini menjadi pedoman dalam menjaga lingkungan. Perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas juga didukung karena narasi konservasi yang lahir mencerminkan beragam pengalaman, pengetahuan, dan sudut pandang yang ada di dalam komunitas.

Dampak kegiatan ini berpotensi melampaui batas-batas Manggarai Barat. Dengan menunjukkan bagaimana seni bertutur dapat menjadi bagian dari upaya konservasi air tawar, MATA WAE menawarkan sebuah pendekatan yang dapat diadaptasi oleh komunitas lain sesuai dengan konteks budaya dan ekologi mereka masing-masing.

Di berbagai belahan dunia, upaya konservasi sering kali berfokus pada perlindungan spesies, hutan, atau ekosistem. MATA WAE menyoroti satu unsur lain yang tak kalah penting: sistem pengetahuan yang membantu manusia merawat dan menjaga tempat-tempat tersebut.

Di Manggarai Barat, melindungi air berarti lebih dari sekadar menjaga mata air dan hutan tetap lestari. Ia juga berarti merawat kisah-kisah yang telah membimbing masyarakat selama bergenerasi-generasi, serta memastikan bahwa kisah-kisah tersebut terus hidup dan membentuk masa depan.

Karena ketika pengetahuan mengalir dari satu generasi ke generasi lainnya, maka air pun akan mengikuti. 

 

Foto oleh Michael Eko.
Powered by National Geograpic Society. 

Join CEST in shaping a sustainable future through research and collaboration.

Discover opportunities to join and collaborate with us in creating impact in addressing global environmental challenges.

Join CEST in exploring meaningful research and learning more how we can live more equitable and sustainable —one discovery at a time.

id_IDBahasa Indonesia