Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Wae Telang, mata air sakral di Manggarai Barat, Flores, air bukanlah sekadar sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Air adalah ikatan hidup antara manusia dan bentang alamnya, sebuah hubungan yang dipelihara melalui pengetahuan adat yang telah menjaga sumber air selama turun-temurun.
Namun, hari ini ikatan antara manusia dan air tengah menghadapi tantangan yang semakin besar. Manggarai Barat telah menjelma menjadi destinasi wisata yang tumbuh pesat di Indonesia. Pertumbuhan ini membawa harapan berupa peluang ekonomi baru, tetapi juga meningkatkan kebutuhan akan air tawar di wilayah yang pasokan airnya telah lama dipengaruhi oleh siklus musim yang tidak menentu. Di saat yang sama, banyak generasi muda meninggalkan desa untuk mengejar kesempatan kerja yang muncul bersama geliat pariwisata. Mereka tumbuh dalam arus media dan gaya hidup baru yang menawarkan berbagai kemungkinan, tetapi juga berisiko menjauhkan mereka dari pengetahuan dan kearifan leluhur yang selama berabad-abad menjadi penjaga sumber-sumber air dan alam di sekitarnya.
Di tengah perubahan cepat ini, muncul pertanyaan penting: apa yang akan terjadi ketika kisah-kisah yang selama ini menjadi penjaga alam, yang mengajarkan cara menghormati dan melindungi, perlahan menghilang dari ingatan generasi berikutnya?
MATA WAE – The Project
MATA WAE, atau “mata air” dalam bahasa Manggarai, adalah sebuah inisiatif yang menyatukan pengetahuan adat, bercerita, dan ilmu lingkungan.
Lokasi : Desa Lendong dan Munting, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
Durasi : Mei 2026 – Desember 2027.
Dengan bekerja sama dengan masyarakat di Desa Lendong dan Munting, kegiatan ini mengeksplorasi bagaimana memori budaya dapat memperkuat ketahanan air di dunia yang berubah dengan cepat.
Alih-alih memandang pengetahuan lokal sebagai bagian dari masa lalu, kegiatan ini menjadi sumber daya yang penting untuk masa depan. Para tetua adat menyimpan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi tentang mata air, hutan-hutan sakral, dan praktik-praktik konservasi berbasis adat. Di sisi lain, generasi muda membawa cara dan sarana baru untuk mendokumentasikan serta membagikan kisah-kisah tersebut. Bersama-sama, mereka menciptakan cara-cara baru untuk memahami sekaligus melindungi lingkungan.
Aktivitas
Kegiatan terdiri dari:
- Eksplorasi budaya dan ilmu pengetahuan; Bekerja sama dengan masyarakat di Desa Lendong dan Munting, kegiatan ini mengeksplorasi memori budaya yang dapat memperkuat ketahanan air di dunia yang bergerak cepat.
- Lokakarya: fotografi, videografi, pemetaan, konservasi
- Pendampingan
- Penanaman pohon spesies lokal
- Pameran dan peta cerita komunitas; Melalui bercerita secara partisipatif, masyarakat akan mencatat geografi fisik Wae Telang dan juga pengetahuan yang tertanam di dalamnya: kepercayaan, sejarah, dan praktik yang telah membantu melestarikan sistem air lintas generasi.
- Wacana kebijakan dengan pemerintah setempat.
Kegiatan penanaman pohon, pameran komunitas, dan dialog kebijakan akan semakin menghubungkan pengalaman lokal dengan upaya konservasi yang lebih luas.
Bagi peserta, kegiatan ini adalah pengalaman sangat personal. Kaum muda mendapatkan kesempatan untuk terhubung kembali dengan pengetahuan yang mungkin akan hilang dari ingatan. Para tetua menemukan audiens baru untuk tradisi yang telah lama membimbing pelestarian lingkungan. Perempuan, kaum muda, dan penyandang disabilitas didukung sebagai pendongeng, membantu memastikan bahwa narasi konservasi mencerminkan beragam pengalaman dan perspektif.
Harapan luaran
- Buku foto dan peralatan edukasi
- Peta cerita interaktif
- Pameran masyarakat
- Publikasi akademis tentang sosio-hidrologi Wae Telang
- Rancangan peraturan desa (Perdes) tentang pelestarian adat
Luaran ini bukan sekadar catatan warisan budaya; melainkan alat untuk pendidikan, advokasi, dan konservasi. Diharapkan dampaknya akan memengaruhi pelestarian pengetahuan adat, memberikan pencerahan kepada para pendongeng muda dan perempuan, serta melestarikan sebagian hutan suci yang dilindungi dalam rancangan peraturan tersebut.
The Team
Kegiatan ini dikoordinasikan melalui CEST di bawah pimpinan Akna Ilmi. Sementara studi dan hasil proyek dipimpin oleh:
- Cindy Priadi – Indonesia Environmental – Scientist Engineer
- Michael Eko – Indonesian Photographer
- Yingshan Lau – Singapore Socio-hydrologist
- Nick Okafor – USA Design Researcher
Dampak kegiatan ini berpotensi melampaui batas-batas Manggarai Barat. Dengan menunjukkan bagaimana seni bertutur dapat menjadi bagian dari upaya konservasi air tawar, MATA WAE menawarkan sebuah pendekatan yang dapat diadaptasi oleh komunitas lain sesuai dengan konteks budaya dan ekologi mereka masing-masing.
Di berbagai belahan dunia, upaya konservasi sering kali berfokus pada perlindungan spesies, hutan, atau ekosistem. MATA WAE menyoroti satu unsur lain yang tak kalah penting: sistem pengetahuan yang membantu manusia merawat dan menjaga tempat-tempat tersebut.
Di Manggarai Barat, melindungi air berarti lebih dari sekadar menjaga mata air dan hutan tetap lestari. Ia juga berarti merawat kisah-kisah yang telah membimbing masyarakat selama bergenerasi-generasi, serta memastikan bahwa kisah-kisah tersebut terus hidup dan membentuk masa depan.
Karena ketika pengetahuan mengalir dari satu generasi ke generasi lainnya, maka air pun akan mengikuti.